Jumat, 18 Mei 2012

Ulama dan Politik Kita

                                           
Dalam masyarakat kita di NTB, Istilah ulama itu mudah sekali dipahami sebagai ahli agama. Warga masyarakat tahu, ilmu agama yang dimiliki ulama sangat luas dan mendalam, hingga pada segenap persoalan yang berhubungan dengan agama yang dipahaminya. Masyarakat kita tak membedakan ada ulama yang keahliannya dibidang Fiqih, ada yang dibidang tasawuf. Ulama tetap ulama. Saking manutnya  ulama malah mendapat pula sebutan ganda, alim plus ulama.

Usaha membedakan secara rinci dan cermat, hannya dilakukan oleh segelintir orang seperti yang dilakukan oleh kaum sekolahan, dan tidak oleh anggotta masyarakat secara umumnya. Mereka juga tak membedakan antara ulama dan kiai. Kiai kita ahli agama, ulama juga ahli agama. Maka ulama dan kiai begitu bercampur aduk demikian rupa, hingga ulama ya kiai, ulama itu ahli agama, pun tak dibedakan ulama yang hidupnya  di dunia politik terus menerus, dan ulama juga khususnya mengabdikan diri di bidang agama. Kadang-kadang kita melihat orang pakai sorban  pun kita kira ulama.

Di dalam dunia pesantren, sebutan ulama dikenakan sebagai pemimpin atau pengasuh pondok pesantren. Orang-orang pengasuh pondok pesantren sudah tentu ahlinya di bidang agama karena itu jelas ulama. Tapi dimasyarakat kita, ulama belum tentu punya pondok pesantren, dan dengan begitu belum tentu pula pemimpin atau pengasuh pondok pesantren. Hannya ulama yang memimpin pesantren yang umumnya berhak di sebut ulama.

Dalam tulisan ini ulama menunjukan tokoh agama, termasuk kiai. Yang disebut ulama juga benar-benar ulama, bukan sekedar ulama yang di ulamakan. Hal ini perlu kita pahami karena didalam politik kita yang rusuh saat ini, yang tujuannya hannya meraih kemenangan, berbagai cara ditempuh. Jika strategi melibat ulama kira-kira bakal menguntungkan perjuangan politik kelompok atau ormas tertentu, maka dilibatkanlah ulama. Dan jika ulama sejati tak mau diperalat belaka, mereka bisa membikin ulama sendiri. Asli orang biasa, tapi dipoles begitu rupa, hingga mirip ulama, dan diberi status politik ulama.

 Dalam kemelut  para ulama seharusnya kompak. Dan yang berwajib kabarnya merasa perlu memiliki ulama sendiri. Tapi berhubungan ulama setempat sepenuhnya memihak pada rakyat, maka muncullah ulama yang di ulama kan tadi. Dalam manipulasi  merupakan pekerjaan harian. Membohongi orang dengan cara kalau bisa lebih canggih, hingga kebohongan itu seolah sebuah kebenaran,  dianggap sah, baik dan tidak perlu dipertanyakan status rohaninya.

Setiap hari kita menemukan prilaku macam ini dalam politik kita. Bohong dengan cara sederhana, caranya diulang-ulang, dan membosankan, bahkan membuat orang muak, tak menjadi soal. Asal kebohongan itu bisa memperdaya orang lain, dia sudah anggap baik juga.
Setiap hari kita menemukan betuk politik macam ini. Kalau kebohongan tak manjur, maka kebohongan itu dibantu pemaksaan dengan aneka macam. Ini juga dianggap barang biasa. Dan tiap hari kita menemukan tindakan seperti ini.

Tak mengherankan orang lantas mengidenifikasikan politik dengan kebohongan, kekerasan dan segenap tipu daya. Orang lantas bilang politik itu menghalalkan segala cara.
Dalam politik, posisi ulama sering dimanipulasi. Berhubungan itu ulama mayoritas ulama di NTB sebagai pemegang legitimasi moral, dan pemerintah memerlukan pula legitimasi seperti itu, maka ulama pun di kooperasi. Mereka mau? Ada yang mau, karena dekat dengan kekuasaan itu enak. Kecuali ada fasilitas menarik, mereka pun kecipratan wibawa dan kekuasaan.

Ulama yang inti tujuan hidupnya bukan mengejar popularitas diri, bukan mengejar keuntungan politik dan ekonomi, jelas waspada. Dan akhirnya dengan kebeningan hati nuraninya menolak terlibat politik sangat sering begitu keras, kasar dan ingin menang sendiri tujuannya. Ulama intelektual. Sebagai intelektual ulama mengabdi bukan pada kekuasaan melainkan pada kebenaran. Jika ia melihat kebenaran terinjak, ulama sebagai intelektual yang bening hatinya, bening niat hidupnya, memperotes.

Jika  keadilan terlantar, ulama memperjuangkannya. Ia bisa berjuang sendiri. Tapi bisa juga lewat kelompok, atau lewat partai. Ulama yang dekat kekuasaan, bagaimanapun bakal tidak kritis terhadap apa yang  mestinya disikapi secara kritis.
Jika kekuasaan memihak kemanusiaan dan keadilan serta kebenaran, kedekatan ulama tak dikecam. Tapi jika ulama berjinak-jinak dengan kekuasaan yang serba keras, serba menindas, dan melalaikan rasa keadilan, kebenaran dan kemanusiaan, ia mungkin batal. Ulama yang tidak canggih bermain politik tetapi campur aduk hidupnya dengan para pemegang kekuasaan, biasanya diganyang. Tujuannya mejernihkan, bisa jadi ia laut dalam kekeruhan politik.

Ia tak bisa berbuat sesuatu dalam sistem yang sudah mapan, rapid an kuat, dan bisa mengubah apa saja. Dalam situasi politik macam itu ulama dalam keadaan kesulitan. Masuk dalam kekuasaan,resikonya malah larut. Menjauh dari kekuasaan, dikira menentang. Dikira tak mau menjaga keselarasan hubungan ulama dengan umara.

Keselarasan wajib dijaga. Keharmonisan wajib ditegakkan. Persatuan dan kesatuan, jelas wajib dijaga bersama. Tak dianjurkan ulama sudah tahu. Ulama sebagai pewaris nabi. Dan nabi-nabi siapa pun beliau harus selalu berjuang mejernihkan hubungan manusia yang bathinnya keruh dengan mereka yang jernih, agar bersatu padu, utuh dan harmonis. Nabi-nabi susah payah berjuang,menderita dan jarang yang hidup mewah.

Materi bukan cita-cita utama yang hendak diraih para nabi. Maka, ahli waris para nabi semestinya tak pula tergiur dengan materi. Tuntutan mereka agar mampu membikin  jernih apa yang keruh. Dan itulah yang mesti dilakukan. Maka dalam situasi keruh  jangan sebentar-sebentar menunduk menyatakan setuju atas ini dan itu, apalagi bertentangan dengan hati nurani.

Masyarakat tidak bisa melihat siapa-siapa lagi yang pantas diandalkan buat member perlindungan. Masyarakat tidak melihat satu pihak pun yang diduga bisa bersuara jernih, dan melurusakan segenap keburukan selain kepada para ulama dan ulama. Kalau lantas ulama dan ulama  ini diam lantas apa bedanya dengan orang awam yang tak berilmu. Wallahu A’lam bis Shawab. (Ahyar)

Memantau Pilgub NTB 2013

                                      
Genderang perpolitikan di NTB sudah mulai terdengar. Para ahli ilmu politik dan segenap politisi diserentakkan seperti dibangunkan dari tidur panjang untuk memberi respons. Aneka pemikiran pun bermunculan. Dan dari sejumlah partai politik sudah mulai melakukan promosi atas bakal calon terbaik untuk memperebutkan kursi gubernur di pilgub NTB yang akan berlansung Mei 2013. Bakal calon gubenur pun masih di ungguli oleh gubernur incumbent Dr. Zainul Majdi untuk saat ini. Dari sejumlah figur di usung partai lain belum menunjukkan diri. Sementara bakal calon wagub (cawagub) sudah banyak dari partai yang bermunculan diantaranya, Wagub incumbent Badrul Munir, Moh. Amin (sekertaris DPD Golkar) H. Husni Djibril (sekertaris DPD PDI Perjuangan), dan Jamilludin Malik (Ketua DPC Hanura Sumbawa). Belum tambah lagi dengan figur-figur partai lain. (Lombok Post, 16/4/2013).

Sikap dari beberapa partai ini pun menjadi tema yang harus dibicarakan penting dalam konteks ke NTB-an, kita seolah-olah sedang berhadapan dengan situasi baru yang lebih terbuka, lebih bebas berbicara, lebih leluasa mempersoalkan perkara penting ini. Seolah-olah kita ini mahluk baru di dunia politik kita. Situasi ini mungkin dipandang telah cukup matang buat bicara lebih mendasar. Apa yang dulu peka sekarang barangkali tak dirasa terlalu peka sekali.

Tak heran jika di sejumlah pojok kampus, kantor LSM, dan warung makan untuk membicarakan perkara pilgub pula. Seakan mereka merasa terpanggil. Dan itu benar. Itu tandanya mereka, sebagai warga negara, merasa bertanggung jawab atas segenap persoalan kemasyarakatan dan kenegaraan di NTB dalam jangka masa depan. Kita perlu berpikir adalah mereka warga negara yang baik. Pilgub, dengan semangat dan penuh rasa bangga kita sebut sebagai “Pesta demokrasi” itu mulai dipersoalkan hendak menjadi pesta yang adil. Makna adil di sini tentu saja jelas, bahwa pilgub jangan sampai lagi dan lagi cuma hannya memenuhi ritus demokrasi.

Ritus memang ada dimana-mana, dibidang apa pun yang seperti dalam agama menghendaki kerutinan. Rutinitas tidak jelek. Tapi bila rutinitas itu yang dijadikan jiwa dan inti persoalan, ia pasti tidak akan memuaskan. Seperti dalam agama, dalam politik pun rutinitas cuma kulit. Dilihat dari sudut hukum mungkin sah-sah saja. Begitu juga dengan persoalan pilgub kita. Sekarang kita berpikir, berharap dan juga melakukan upaya, agar pilgub kita makin bersih. Ia tak cuma memenuhi formalitas.

Bersih dari kecurangan  
Bersih dalam  pengertian apa? Mungkin bersih dari prilaku curang, bersih dari tekanan. Bersih dari rasa kecewa. Semua pihak, pendeknya, saat menjadi saksi, menjadi panitia pengawas pelaksanaan pilgub dan bertanda tangan, semoga tanda tangan itu menorehkan tanda tangan di atas kertas bersih. 

Pilgub bersih seperti apa lagi? Bersih karena lega, dan iklas bukan karena adanya rasa takut atau terpaksa. Dengan begitu secara hukum, sah secara politisi dan sah secara moral.
Dimana pikada yang bersih itu? Dimana pilgub yang bebas sama sekali dari kecurangan? Jika sikap mutlak-mutlakan yang kita tuntut mungkin, kita  akan kecewa, dimana pun kita, mungkin tidak akan  menemukanya. 

Tapi bukankah sebagai daerah kita makin dewasa dan karena itu wajar mengusahakan bersama perbaikan demi perbaikan kualitas hidup ke NTB-an kita termasuk dalam persolaan pilgub 2013 yang tinggal di menunggu waktu. Tentu saja kita wajib mengarahkan ke situ. Karena kita punya petugas politik penting yang mesti dipenuhi di satu bidang. Dan tugas ini mungkin tak bisa di tunda-tunda. Apa pun alasanya.
Oleh kaerna itu niat baik kita semua untuk mengwujudkan pilgub yang adil, jujur dan transparansi merupakan langkah positif dalam kehidupan berpolitik kita di NTB. Pemikiran kita yang semacam ini merupakan cerminan atas kesadaran sebagai bentuk kita bermasyarakat dan bernegara. Biar langkah menwujudkan demokrasi tak tersendat-sendat. Upaya menyebarkan itu di kesemua wilayah di NTB, buat membentuk kesadaran dan sikap yang lebih tegas dan memihak pada keadilan. 

Jika salah satu pihak yang tidak merasa cocok dengan langkah ini, sudah pasti kita tidak akan keberatan. Kita membuka dialog. Kita bersama mencoba mencari ukuran-ukuran bersama yang bisa diterima semua kalangan. Tentunya dalam usaha ini, para aktivis mahasiswa, LSM dan masyarakat tentu saja sedang membayangkan berfungsinya proses kontrol sosial-politik agar yang bengkok diluruskan, sedangkan yang kurang perlu kita tambahkan bersama.

Kita tak mengada-ada tak sekedar bermimpi. Tindakan bertumpu pada realitas sosial-politik kita yang menunjukan, betapa lemahnya arti kontrol itu. Atau mungkinkah penyelengara negara, para pemegang kekuasaan mungkin lebih senang dengan situasi seperti itu berhenti tanpa diganggu kehendak untuk berubah. Dan orang bayak punya hak bahkan wajib menyumbangkan pemikiran mereka demi menwujudkan pilgub yang berkeadilan. Seperti disebut diatas perbaikan-perbaikan kualitas hidup kita. Juga hidup dibidang politik kita.

Politik yang sehat bukan hannya harus tercermin dalam pemerintahan yang kuat. Juga tidak Cuma terwujud dalam stabilitas. Pemerintah kuat, negara stabil, tujuan kita semua. Tapi kuatnya pemerintah,stabilnya negara baru punya arti penting bila rakyat pun kuat.. menjadi impian dan tujuan kita bersama dalam menwujudkan pilgub 2013 NTB yang lebih adil, jujur dan transparansi. Wallahu a’lam bisawab….(Ahyar)

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional dalam Perkuat Nilai Kebangsaan, Jaga Keutuhan NKRI

mellbaoNews. Sabtu, 19/Mei/2012, telihat ramai ratusan peserta undangan  berdatangan ke gedung Sankerenang untuk menghadiri seminar dalam rangka memperingati hari kebangkaitan nasional.
Momentum peringatan  hari Kebangkitan Nasional, yang jatuh pada tanggal, 20 Mei, 2012 harus jadikan sebagai refleksi penguatan identitas nasioalisme kebangsaan seluruh elemen masyarakat. Terutama pemuda dan mahasiswa sebagai penerus perjuangan di masa mendatang. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh para pendahulu, khususnya pra-kemerdekaan harus dijadikan tauladan bagaimana mewujudkan dan menjaga kokohnya NKRI dalam bingkai kebhinekaan. 

 Dalam sambutan yang disampaikan oleh Direktur Bumi Gora Institut, mengatakan. Di tengah karut-marutnya percaturan politik dan gejolak pemerintahan nasional, kekompakan sebagai bangsa yang besar sedang diuji. Sementara itu persoalan di daerah-daerah juga terus bermunculan. Sehingga dalam menyelesaikan persoalan tersebut membutuhkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.   

Pada waktu yang bersamaan pembicara Ketua PW Muhammadiah NTB, Muharrar Ikbal,   memaparkan tentang pentingnya  memperingati hari kebangkitan nasional sebagai perwujudan kita masyarakat yang majmuk. Di NTB, Konflik antar kelompok masyarakat terus terjadi meski kadang dipicu oleh persoalan sepele. Kekerasan atas nama agama dan kelompok mayoritas pecah di mana-mana. Laku ekspresi anarki gejolak di masyarakat seakan tidak pernah redup sampai saat ini.

Menuurtnya, perbedaan-perbedaan yang dapat mengganggu keutuhannya NKRI harus segera diakhiri. Konflik antara masyarakat harus dihindari karena hanya akan menimbulkan kerugian buat kita semua. Apalagi NTB sebagai salah satu kawasan rawan konflik mendapat perhatian khusus dari pemerintah terkait kondusifitas kehidupan masyarakat. 

Dalam acara tersebut turut mengundang  beberapa pembicara yang tidak berkesempatan hadir pada seminar sehari tersebut. diantaranya:  Prof. Dr. Galang Asmara, SH., M.Hum. (Akademisi UNRAM), Asisten I Setda NTB, Drs. H.Ridwan dan H.Didi Sumardi, SH (Datu Mellbao).

Kantor Gubernur Harus Punya Helipad

mellbaoNews Jum'at 18 Mei 2012, Hari masih pagi saat suara gemuruh memecah ketentraman kota Mataram.  Angin menderu seru di atas Taman Sangkareang hingga membuat riuh pepohonan yang berada disekeliling taman kebanggaan Kota Metro NTB itu.  Daun-daun kocar-kacir, debu berputar membuat pusaran kecil sehingga pedagang kaki lima yang mangkal di Taman Sangkareang panik.  
Seribu mata menatap kearah langit sangkareang asal suara yang menderu itu, sebuah Helikopter milik TNI AU mendekat.  Putaran baling-balingnya memekakkan telinga, sebuah wajah yang begitu kita kenal tampak dijendela dengan senyum khasnya.  Ya, yang datang hari itu adalah Bapak Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono atau biasa kita panggil SBY. Presiden berkunjung ke Mataram dalam rangka memimpin rapat kerja MP3EI (Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) di Pendopo Gubernur NTB.
Seribuan mata yang masih melongo takjub en heran melihat Helikopter di tengah kota berusaha mendekat, namun puluhan Polisi dan Tentara menahan langkah penasaran mereka.  Pemandangan dan kejadian Helikopter mendarat di tengah kota itu jelas membuat banyak warga kota yang kebetulan melintas di taman sangkareang tertarik, namun banyak juga yang menyayangkan kenapa Helikopter tersebut mendarat di taman sangkareang. "itu kan bisa merusak pepohonan disana, juga pemukiman atau gedung perkantoran yang mungkin saja tidak bisa menahan kencangnya putaran baling-baling heli." kata salah seorang warga yang berusaha diam-diam lepas dari penjagaan petugas.
Menurut warga yang lain yang sempat ditanya oleh KM.Mellbao, seharusnya helikopter yang mengangkut Bapak Presiden mendarat saja di Bandara Selaparang sehingga tidak membuat kegaduhan seperti ini.
Terlepas dari pro kontra nyelekit warga kota mataram tentang aksi Landing helikopter presiden, memang seharusnya NTB punya fasilitas Helipad di kantor Gubernur agar kapanpun pejabat tinggi negeri yang datang berkunjung bisa dengan santun masuk pekarangan kita. Tanpa menimbulkan rasa marah, apalagi kalau yang kena terjangan angin helikopter pejabat adalah masyarakat kecil yang sudah susah. seperti inaq Isah pedagang es kelapa muda yang mangkal di Taman sangkareang yang dagangannya diserbu debu.  "tapi, masih tetep laku kok mas, karena sudah saya tutup rapat.  Tapi saya seneng tumben bisa lihat helikopter dan bapak presiden dari dekat." celotehnya, "Pak SBY Guanteeng."celetuknya sambil tersipu. (Datu)    

Selasa, 15 Mei 2012

Sampah itu Meresahkan Pengunjung Taman Loang Balok


mellbaoNewsRabu,16/Mei/2012.Direktur
Komunitas Mellbao, dalam perjalanan pulang menuju kampung Ampenan. Pemandangan  di salah satu taman yang tiap sorenya yang jarang sepi dari pengunjung. taman itu Loang Balok. Tumpukan sampah disekitar taman berserakan, beragam sampah masih menjadi masalah yang belum bisa ditangani oleh masyarakat dan pemerintah kota Mataram. Pemandangan ini  seringkali membuat sebagian para pengunjung dari luar kota Mataram menjadi keluhan bersama. Para pengunjung  yang sering  melakukan, jogging  bersama keluarga sanak dan family menjadi keluhan tersendiri, yang harus persoalan segera dijawab oleh pemerintah Kota Mataram khususnya dinas kebersihan Kota Mataram.

Dalam kesempatan begitu singkat tersebut Direktur Kampung Media Mellbao menyempatkan diri untuk menayakan masalah tumpukan sampah yang ada disekitar taman wisata Loang Balok tersebut, pada salah seorang pengunjung  dan pedagang kaki lima disekitar tempat tersebut. Sebetulnya sampah-sampah ini memang seringkali menjadi masalah dan keluhan setiap para pengunjung yang berkunjung ke taman Loang Balok ini, khususnya kami para pedagang kaki lima disini, Keluhnya inak Sahnim sambil menunggu pembeli.
Keluhan yang sama juga disampaikan oleh Nana Mahasiswa Universitas Mataram (Unram), sebetulnya persoalan sampah bukan masalah sepele, yang harus dibiarkan, kalau sampah dibiarkan dan terus dibiarkan berserakan  terus seperti ini. Sampah tersebut bisa membahayakan masyarakat dan lingkungan disekitar taman Laong Baluk bukan itu saja, pemandangan indah dan udara yang bersih bisa menjadi perusak sirklus di udara.

Dalam kesempatan tersebut Direktur komunitas Mellbao atau yang akrab dipanggil Mh. Firmasyah ikut memberikan beberapa imformasi dan saran  tentang bagaimana semua jenis sampah itu bisa di maafaatkan dan medatangkan malah sebaliknya bukan mendatangkan bencana pada lingkungan. Atau  masyarakat bisa mengumpulkan  semua jenis sampah dan jual ke Bang sampah atau pada pedagang pengepul sampah lainnya. Sambil menunggu datangnya Magrib tiba.. (Datu Mellbao)
  

Rakyat Bicara Program Unggulan


mellbaoNews. Selasa, 15/Mei/2012.  Pagi yang tak dirindukan ketua Media Mellbao kampung Mataram mendapatkan sebuah undangan terhormat dari GP, Anshor kota Mataram,  untuk menjadi peserta diskusi “Rakyat bicara tentang program unggulan” acara ini diselengarakan berkat  atas kerjasama GP Anshor kota Mataram, dan Radio Global FM Lombok.  Acara diskusi tersebut bertepatan Harlah GP Anshor  yang ke- 78 dan hari  ulang tahunnya Radio Global FM Lombok. Dari hasil pemantauan Ketua kampung media Mellbao, dari kalangan, mahasiswa, LSM, pemuda, dan ditambah juga dengan beberapa  kepala dinas, Peternakan, Pariwisata dan Kebudayaan, dan dinas pendidikan dan olahraga provinsi NTB dan tidak ketinggalan juga Ketua NU Kota Mataram, Fairuzzabadi juga hadir dalam kesempatan tersebut..

Dalam sambutan pertama disampaikan oleh pimpinan Radio Global FM Lombok, Bang Agustalino, Karena itulah, Agus merasa perlu ada masukan masyarakat untuk mendorong capaian program tersebut. “Kita harapkan ada ide besar untuk kita dorong program unggulan ini sesuai harapan,” ujar Agus. Ia menambahkan bahwa pihaknya bersama GP Ansor menggelar diskusi ini karena merasa bahwa tanggung jawab pembangunan adalah tanggung jawab semua pihak, sesuai peran dan fungsi masing – masing. dalam kesempatan itu juga acara ini sebagai wahana untuk silaturahmi antara pemerintah provinsi NTB dan masyarakat tegas beliau. 

Dalam sambutan kedua juga  disampaikan oleh Wakil Gubenur Ir. Badrul Munir, dalam sambutan tersebut beliau menyampaikan beberapa pencapaian yang sudah dikerjkan  program unggulan selam ini. Provinsi NTB selama 5 tahun kepmimpinan TGB BM. Seperti hal Absano, Adono, Akino, Adono dan BSS selama ini sudah mencapai target yang mendaptkan hasil target. Dalam menwujudkan program tepat sasaran semestinya dibutuhkan Kerjasama anatara pemuda, tokoh agama., tokoh masyarakat, terutama kepala masing-masing kepala SKPD tandas demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTB dalam meningkatkan IPM NTB, tandas wakil Gubenur.

Di acara terakhir diselingkan dengan pemotongan tumpeng oleh Pimpinan Radio Global FM Lombok dan diserahkan secara simbolis kepada wagub Ir. Badrul Munir. Firmasyah Ketua Kampung Media (Mellbao) berharap besar dari kegiatan tersebut komunikasi bisa terus terjalin antara pemerintah provinsi NTB dan masyarakat, sehingga apa yang menjadi cita-cita dalam program unggulan yang dicanangkan bisa tepat pada sasaran dan membuahkan hasil. (Datu Mellbao)






Selasa, 08 Mei 2012

Pantai Ampenan Antara Sunset dan Sampah

mellbaoNews Keindahan sunset pantai Ampenan tidak diragukan lagi ketika matahari mulai redup oleh waktu.  Langit kelihatan memerah dengan ditemani sunset di pengujung pantai Ampenan. Ampenan nama pantai ini tidak sepupuler pantai Sengigi, Kerandangan, Malimbo dan pantai-pantai yang ada di NTB. lokasinya sekitar 2, kilometer dari pusat Kota Mataram. 

Pantai Ampenan  ini memang   begitu jarang diketahui  oleh  pengunjun dari luar daerah, dikarenakan pengelolaan  sampah dan imfrastruktur di pantai Ampenan belum dikelola dengan baik,   kata, Ketua  Kampung Media (KM) Mellbao. ketika sedang melakukan kunjungan di pantai Ampenan sambil mengamati tumpukan sampah di sekitar pantai tersebut. Sangat di sayangkan juga kata Firmansyah (KM), pemandangan sunset di pantai Ampenan terkendala dengan banyaknya sampah disekitar pantai.

Pengelolaan sampah yang belum maksimal membuat keindahan sunset  pantai Ampenan kurang diminati oleh pengunjung dari luar. hal senada juga di ungkapkan oleh salah seorang pemuda pantai Ampenan, Sidik " sebenarnya untuk penggelolan pantai Ampenan seringkali terkendala  dengan banyaknya sampah yang dibuang ke sungai sehingga membuat sungai menjadi kotor dan mengundang bau yang kurang sedap. kita  juga berharap pemerintah dalam hal ini Dinas kebersihan Umum Mataram, melakukan  pengelolaan sampah yang bagus dan ekonomis tegasnya". 

Tanpa adanya pengelolaan sampah yang disekitar pantai Ampenan yang berkelanjutan mustahil pemandangan sunset indah dan mempesona kita bisa lihat seperti sebelumnya. Apalagi saat ini dengan adanya rencana pembagunan Ampenan Harbour itu akan membuat membuat pemandangan disekitar pantai akan lebih mengundang pengunjung dari luar daerah, tapi kalau sampah tidak dikelola dengan baik maka semua itu akan mengundang sebuah bencana... (ahyar)



   


Senin, 07 Mei 2012

ACTION GREEN

mellbaoNews Ide atau gagasan tak akan ada artinya tanpa tindakan.  Itulah yang di yakini oleh Kampung Media Mellbao dengan idenya untuk membersihkan dan me-recycle sampah yang selama ini menjadi masalah serius di Kota Mataram.  Dengan berbekal ide itu, ketua KM Mellbao dan anggotanya berkunjung ke kantor Program Unggulan Pemrov NTB dengan harapan ide mereka setidaknya mau didengar dan direalisasikan untuk dilaksanakan oleh Pemda atau Pemprov.
Ketua KM Mellbao dalam presentasinya didepan tim Program Unggulan yang berkantor di gedung sangkareang lantai II di komplek Kantor Gubernur NTB mengatakan, "harapan kami pengelolaan sampah di NTB bisa dilakukan dengan cara yang lebih efisien dan ekonomis." Dalam pemaparannya mh. Firmansyah menjelaskan tata cara operasional penanganan sampah dari rumah tangga sampai akhirnya ke TPA Kebon Kongok.  "kami berharap pemerintah mau mengubah pola operasional penanganan sampah saat ini, yaitu dengan mengganti truk pengangkut sampah yang saat ini masih di gunakan, dengan memodifikasinya agar sampah yang diangkut langsung terproses selama mobil truk pengangkut sampah itu bergerak. So, begitu sampai di TPA bukan sampah yang ditumpahkan melainkan pupuk cair." Katanya bersemangat. Dia berharap dalam satu dua tahun kedepan TPA kebon kongok tak lagi menjadi tempat tumpukan bergunung-gunung sampah, tetapi menjadi tempat penampungan berkarung-karung pupuk hasil pengolahan sampah.
Dalam presentasinya itu, ketua KM mellbao ini berani menjanjikan bahwa dalam 2 tahun ia dan timnya bisa menjadikan TPA Kebon Kongok menjadi TPP atau Tempat Penampungan Pupuk. "..dengan syarat, pemda-pemkot maupun pemprov bersedia mengalokasikan sedikit dana untuk pembelian alat pengolahan sampah.  Cukup yang sederhana asal benar-benar direalisasikan, jangankan 2 tahun bahkan dalam 1 tahunpun insya Allah, BISA!!." lanjutnya bak seorang calon kepala daerah yang kampanye.
Diujung presentasinya ia mengharapkan agar idenya untuk membuat mobil pengangkut sampah yang langsung berfungsi sebagai pengolah itu bisa dibuat oleh anak-anak SMK yang ada di NTB.  "kalau solo terkenal dengan mobil esemkanya, saya berharap agar NTB khususnya Kota Mataram dikenal juga karena menghasilkan mobil pengolah sampah."  (DatuMellbao)

Rabu, 02 Mei 2012

Satu Hari Untuk Lingkungan

MELLBAONEWS Hari ahad kemarin saat Matahari sedang congkaknya dipuncak siang. 300'an orang menyisir pantai Ampenan yang digadang -gadang akan menjadi Resort termegah di Indonesia bagian Timur dengan mega proyek Ampenan Harbournya, memungguti sampah disepanjang pesisir pantai.
Program satu hati untuk lingkungan ini digelar berkat kerjasama Pocari Sweat Mataram dengan komunitas on/of dan Mellbao. Dalam acara yang di isi dengan aksi Live musik dari beberapa peserta. panitia juga menyediakan stand layanan keterampilan mengolah sampah plastik menjadi kerajinan tangan seperti, tas,  bunga, dan  tempat HP. 

Dan tak ketinggalan stand layanan perbankan sampah yang dikelola oleh Mellbao, hasil sampah yang di kumpulkan peserta hari ini akan lansung di masukankan ke dalam bank sampah" kata Amran, executive dari  Pocari Sweat Mataram.

"Kita mengharapkan segera agar kegiatan seperti ini rutin dilaksanakan, setidaknya setiap dua bulan sekali, Ari Diatmika, ketua On/of Mataram yang mengorganisir acara menambahkan.  Acara hari ini adalah lanjutan dari rangkainan acara satu hati untuk lingkungan yang dimulai sejak tanggal 25 April disekolah-sekolah di kota Mataram.

"Program ini adalah bentuk kepedulian kita demi keberlanjutan manusia dengan alam, jadi sisakan lah satu hari kita dalam seminggu untuk lingkungan " kata Mh. Firmansyah Direktur Komunitas Mellbao, sambil meminum habis Pocari Sweat yang disediakan gratis panitia.  

Selasa, 01 Mei 2012

SOSIALISASI KEWAJIBAN PELAYANAN UNIVERSAL


MELLBAONEWS Kamis, 26 April 2012 kemarin bertempat di Ballroom Hotel Lombok Raya, KemenKomInfo Pusat mengadakan acara sosialisasi dan publikasi program KPU (Kewajiban Pelayanan Universal) / USO (Universal Service Obligation).  Diwakili Staf Ahli bidang Ekonomi Sosial dan Budaya Bapak Suparwoto, Kemenkominfo dalam sambutannya mengatakan "Orang miskin dan bodoh itu bukan hanya karena tidak punya uang atau harta.  Tapi juga karena tertinggal dalam informasi," Staf ahli kemenkominfo juga mengharapkan agar fasilitas dan dukungan telekomunikasi dan informasi ini digunakan semaksimal mungkin oleh masyarakat.
Acara yang dihadiri oleh lebih dari 200 peserta ini berasal dari pemerintah kota mataram, Media, Asosiasi, Komunitas Kampung Media kota mataram, LSM dan sekolah di buka dengan atraksi sendra tari yang berjudul " Prahara Putri Mandalika". Dalam sambutannya Pemkot Mataram yang diwakili asisten III bapak Mahmud, SH.MM. wali kota Mataram H. Ahyar Abduh mengatakan, kecanggihan tehnologi komunikasi perlu diapresiasi demi kemajuan bersama.

Dalam acara yang berlansung satu  hari itu, disuguhkan bermacam imformasi terbaru dan terkini tentang program pemerintah demi kemajuan masyarakat, dengan menghadirkan pembicara dari operator, tim ahli pemerintah dan swasta. Dalam kesempatan  itu, kemenkominfo menyerahkan M-Plik secara simbolis kepada pemkot kota Mataram.