Minggu, 10 Juni 2012

Kangkung; Ceritamu Kini

mellbao.  Aliran sungai kali jangkok mulai terlihat surut, sungai yang membelah kecamatan Ampenan itu sekarang terlihat kering.  Dasar sungai yang kotor berlumpur tampak kurang elok di pandang ditambah dengan tumpukan sampah yang nyangkut dibeberapa dinding sungai.  Km. mellbao yang kebetulan memang sedang getol-getolnya mencari berita seperti mendapat bahan berita begitu melihat hamparan hijau yang tak terawat dipinggiran kali jangkok ikut tertutup sampah yang terjebak.    

Kangkung, ya hamparan hijau itu adalah kangkung.  Bahan pokok pelecing makanan khas suku sasak itu tampak mulai layu, kusut dan tua.  "padahal baru dua minggu yang lalu saya tanam pak." kata inaq enyol yang tinggal di dasan agung.  Ia menanam kangkung di aliran sungai kali jangkok yang berbatasan dengan kelurahan pejeruk kecamatan Ampenan sudah sejak lama, "ada sekitar 10 tahun saya menanam kangkung disini pak."jelas inaq enyol sembari membersihkan sampah-sampah yang nyangkut di kangkungnya.  Bermodalkan tali rafia, bambu dan potongan kangkung yang dipotong seukuran sendok makan, inaq enyol membuat area kebun kangkung mengapungnya.  Satu tali rafia sepanjang 5-8 meter ia bentangkan dengan terlebih dahulu menanam patok bambu yang sudah dipersiapkannya.  Lalu dengan cekatan inaq enyol mengikat satu persatu potongan kangkung disepanjang tali rafia hingga berjejer puluhan ikat kangkung.  "kalau sudah selesai, kita tinggal tunggu aja sampai satu dua bulan untuk panen,"katanya,"tapi harus sering dibersihkan biar kangkung yang dihasilkan bagus."  Namun sayang, bulan ini inaq enyol sepertinya gagal untuk mendapatkan panen seperti yang diharapkannya.  Kondisi kali jangkok yang makin memprihatinkan karena makin dangkal dan kotor, membuat kualitas kangkungnya tidak maksimal.  "ini saja sudah kecoklatan, padahal kalau umur dua minggu biasanya warnanya hijau segar."ungkapnya mengungkapkan sedikit kekecewaan.  

Inaq enyol dan kali jangkok, satu potret kecil jalinan hubungan manusia dengan alam yang mulai terusik karena ulah sebagian manusia yang masih tidak perduli pada lingkungan.  Mengakibatkan terganggunya rantai ekonomi inaq enyol dan inaq enyol lainnya yang menggantungkan harapan dengan menanam kangkung di Daerah Aliran Sungai.  Akankah satu kebiasaan buruk kita dengan membuang sampah disungai, membuat kita akan kehilangan satu makanan khas karena makin langkanya kangkung? dan membuat inaq enyol kehilangan mata pencaharian?.  Ah. [DATUmellbao]

Tidak ada komentar: